DAFTAR
ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………… 1
Daftar Isi…………………………………………………………………………. 2
Bab I: Pendahuluan……………………………………………………. 3
- Latar
belakang
- Tujuan
- Pengertian
PAK Anak
BAB II: Metode PAK Anak yang Efektif dan
Berhasil………………… 5
- Definisi
Metode Mengajar
- Mengenal
Pelajar PAK Anak
·
Anak Usia 0-1 tahun
·
Anak Usia 2-3 tahun
·
Anak Usia 4-5 tahun
·
Anak Usia 6-8 tahun
·
Anak Usia 9-11 tahun
- Pengajaran
PAK Anak dalam Keluarga
- Metode-metode
yang digunakan Pengajar
- Garis
besar penggunaan Metode
- Tipe-tipe
Metode Mengajar
- Pelayanan
PAK Anak dalam Sekolah Minggu
BAB III: Penutup………………………………………………………… 12
- Kesimpulan
- Daftar
Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Makalah Metode PAK Anak ini dibuat
adalah sebagai tugas akhir semester ganjil. Selain itu, makalah ini dibuat
sebagai laporan saya tentang metode pengajaran yang efektif dan baik untuk
diberikan kepada bapak dosen beserta teman-teman yang membaca.
Adapun metode PAK Anak ini adalah
untuk memajukan dan mengembangkan pengajaran serta pelayanan kita kepada Anak
yang berlandaskan Firman Tuhan (Alkitab). Yang tadinya dari abad ke abad
mengalami maju, mundur dan terkadang kemerosotan karena beberapa factor, maka
metode PAK Anak ini sangat diperlukan untuk menstabilkan perkembangan Anak
dalam dunia Pendidikan khususnya dalam Pendidikan Agama Kristen.
Anak-anak adalah anugerah. Mereka
seperti kertas putih yang masih kosong dan bersih dan kitalah (orangtua, guru,
orang dewasa) yang akan menulis di kertas tersebut. Apapun hasil tulisan
tersebut, baik yang indah maupun buruk semua bergantung kepada kita yang
memberi tulisan-tulisan tersebut. Jika kita menuliskan yang indah maka kertas
itu akan menjadi indah, dan sebaliknya jika kita menuliskan yang jelek maka
kertas tersebut menjadi jelek, jorok dan tidak enak dipandang mata. Begitulah
kita (orangtua/guru) yang memberikan pengajaran kepada anak-anak itu. Karena di
dalam Alkitab, Tuhan Yesus berfirman: “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari
anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan
diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” (Markus 9:42)
Jadi, Metode PAK Anak ini juga
dibuat agar anak-anak jauh dari penyesatan-penyesatan karena metode ini harus
berlandaskan Firman Tuhan. Tuhan Yesus juga berfirman “Biarkan anak-anak itu
datang kepadaKU, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang
seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Markus 10:14). Dan ini adalah
tugas kita yaitu yang terdapat dalam Amanat Agung Tuhan Yesus “Karena itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa
dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20)
B.
TUJUAN
Tujuan dari PAK Anak ini adalah agar
anak-anak mengenal dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya serta
untuk selanjutnya anak tersebut dapat menjadi dewasa dalam imannya.
C.
PENGERTIAN
PAK ANAK
Istilah pendidikan Kristen berasal
dari bahasa Inggris Christian Education. Dalam
bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Pendidikan Agama Kristen”, karena
istilah PAK mempunyai arti yang agak berbeda dengan istilah “Pendidikan
Kristen”. Pendidikan Kristen dalam bahasa Indonesia menunjuk pada pengajaran
biasa yang diberikan dalam suasana kristiani. Namun dapat juga berarti
sekolah-sekolah yang dijalankan oleh gereja atau organisasi atau yayasan
Kristen. Sedangkan PAK merupakan pendidikan yang berporos pada pribadi Tuhan
Yesus Kristus dan Alkitab (firman Allah) sebagai dasar atau sumber acuannya.
Jadi PAK Anak menurut saya adalah
pendidikan kepada anak yang berlandaskan firman Allah dan menjadikan Kristus
sebagai pusat beritanya dan memiliki tujuan adalah agar anak mengenal dan
menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.
BAB
II
METODE
PAK ANAK YANG EFEKTIF DAN BERHASIL
A.
Definisi
Metode Mengajar
Metode adalah bagian yang penting
dalam mengajar. Sebagai seorang guru, metode dapat mengekspresikan sikap dan
keyakinannya. Dari pendekatan ilmu komunikasi, metode merupakan alat yang
digunakan oleh pengajar untuk mengomunikasikan pengetahuan, ide, atau
kebenaran. Dari pendekatan PAK, metode merupakan sarana yang dipakai untuk
membawa murid mengenal Tuhan Yesus dan firmanNya.
Ada beberapa definisi tentang
metode. Metode adalah alat sederhana yang digunakan guru untuk mengomunikasikan
ilmu yang di dalamnya terdapat idealism dan kebenaran. Metode adalah alat atau
cara mengajar yang di dalamnya terdapat pengalaman dan bahan pelajaran sehingga
keduanya menjadi mata rantai yang saling berhubungan. Metode adalah “motor”
untuk memberi pelajaran tentang Tuhan dan Firman Tuhan.[1]
Sebuah metode merupakan aktivitas
sederhana untuk mengomunikasikan informasi dan artinya, menuntun pengetahuan
yang dalam, atau mendorong untuk memberi respons.
B.
Mengenal
Pelajar PAK Anak
PAK dimulai dari anak-anak. Lima
kelompok usia anak-anak adalah 0-1, 2-3, 4-5, 6-8, 9-11. Sasaran utamanya
adalah anak mengenal dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.
Dengan demikian PAK Anak menjadi begitu penting. Secara emosi, anak-anak
belajar mengendalikannya ketika mereka berhubungan dengan orang lain. Secara
social, anak-anak belajar berhubungan dengan orang lain dalam konteks social.
Secara spiritual, anak-anak dapat menangkap dan memakai konsep-konsep dan
prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupan mereka jika konsep dan prinsip tersebut
diajarkan sesuai dengan tingkat intelektualnya dan diikatkan dengan pengalaman
mereka setiap hari. Secara fisik, anak-anak bertumbuh dengan cepat bila
menerima makanan bergizi dan kesehatannya dijaga dengan baik. Secara mental
anak-anak berkembang secara bertahap dari lahir sampai usia 11 tahun.
Jean Piaget (1976) mengemukakan
empat tahap perkembangan otak atau pemikiran anak-anak yaitu:
a. Periode
sensorik motorik (berhubungan dengan panca indera) dimulai dari lahir-dua tahun
(pengalaman yang berhubungan dengan panca indera bertumbuh cepat)
b. Periode
Preoperational Thought dimulai usia 2-7 tahun (dapat mengklasifikasikan atau
mengategorikan satu atribut saja pada suatu waktu tertentu). Ia dapat menilai
lebih dari yang kelihatan daripada proses yang berasal dari operasi mentalnya.
c. Periode
Concrete Operations dimulai usia 7-11 tahun (dapat mendefinisikan,
membandingkan sesuatu yang berlawanan melalui logika). Namun, hal tersebut
sifatnya masih konkret.
d. Periode
Formal Operations dimulai usia 11 atau 12 tahun (dapat berpikir dan menangkap
hal-hal yang abstrak). Simbol-simbol keagamaan mulai mempunyai arti.
1. Anak
Usia 0-1 tahun
Secara
spiritual, bayi perlu mendapat pengajaran rohani melalui apa yang dilihatnya.
Mereka mempunyai iman yang sederhana melalui keyakinan dan keteladanan
orangtuanya dan orang disekelilingnya ataupun guru sekolah minggunya. Misalnya
bayi dapat melihat saat orangtuanya berdoa dengan melipat kedua telapak
tangannya meskipun dia belum mengerti implikasi teologi dari doa tersebut.
2. Anak
Usia 2-3 tahun
Secara
social, mereka mempunyai hubungan yang baik dengan orangtuanya dan juga orang
di rumahnya. Mereka sangat individualis dan dekat dengan orang yang menjaganya.
Oleh karena itu, dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti mereka,
fungsi orang tua sangat penting dalam mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran
firman Allah. Secara rohani, mereka mempunyai iman yang sederhana. Untuk mengembangkan
kerohaniannya, mereka diajar dengan contoh, sikap, dan tindakan. Misal, mereka
diajar berdoa dengan cara melipat kedua tangannya, memejamkan matanya dan
menundukkan kepalanya. Namun, harus dimengerti bahwa pengajaran rohani harus
dilakukan secara pribadi.
3. Anak
Usia 4-5 tahun
Dalam
pergaulan, emosi anak usia 4-5 tahun, emosinya seringkali diungkapkan secara
negative seperti menggigit, mendorong atau memukul adik laki-laki, perempuan
atau teman-teman bermainnya. Secara spiritual, mereka akan berkembang bila
diajari kebenaran dan pengetahuan Alkitab. Disini orangtua sangat berperan
dalam perkembangan rohani. Pengajaran rohani harus dilakukan secara konkret,
literal dan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Mereka perlu diajarkan
tentang Tuhan Yesus yang mengasihinya, doa-doa yang sederhana dan
nyanyian-nyanyian rohani untuk anak-anak. Namun, hanya diperhatikan juga bahwa
pengajaran hendaknya disesuaikan dengan tingkat intelektualitas.
4. Anak
Usia 6-8 tahun
Secara
spiritual, dengan cara yang sederhana, mereka siap menerima pengajaran tentang
keselamatan. Orang tua dan guru dapat berperan menjadi model melalui aktivitas
mereka di gereja. Dalam bimbingan orang tua dan guru, mereka bertumbuh, bahkan
bersaksi bagi Tuhan.
5. Anak
Usia 9-11 tahun
Secara
social anak-anak usia 9 sampai 11 tahun memiliki kesadaran akan teman-teman
sebaya mereka dan ingin menjadi bagian dari mereka. Ada banyak bukti bahwa
mereka mencari kebebasan dari orang dewasa. Mereka memasuki “tahap geng-geng”
dengan teman-teman sebayanya yang sejenis. Mereka menjadi lebih mampu dan perlu
mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas tindakan dan perilaku mereka.
Secara spiritual, mereka siap diajari ajaran keselamatan dengan lebih lengkap.
Dengan bimbingan yang benar, mereka mampu menyelidiki dan mencari sendiri
kebenaran-kebenaran yang dinyatakan dalam Alkitab. Mereka dapat membedakan
antara benar dan salah dan memiliki nurani yang lembut. Mereka dapat mengambil
keputusan menerima Tuhan Yesus Kristus dan mempersembahkan diri mereka untuk
melayani Tuhan Yesus.
C.
Pengajaran
PAK Anak dalam Keluarga
Keluarga adalah tempat untuk
bertumbuh, menyangkut tubuh, akal budi, hubungan social, kasih dan rohani.
Manusia diciptakan menurut gambar Allah sehingga mempunyai potensi untuk
bertumbuh. Keluarga merupakan tempat memberi energy, perhatian, komitmen, kasih
dan lingkungan yang kondusif untuk bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus
Yesus. Keluarga juga adalah pusat pengembangan semua aktivitas. Dalam keluarga
setiap orang bebas mengembangkan setiap karunianya masing-masing. di dalam
keluarga landasan kehidupan anak-anak dibangun dan dikembangkan.
Seorang ayah mempunyai peranan yang
penting dalam keluarga. Ayah adalah kepala keluarga yang mengendalikan
“bahtera” keluarga. Seringkali ada pandangan yang keliru tentang peranan ayah
dalam keluarga dalam pendidikan anak. Pandangan ini mengemukakan bahwa ayah
yang mencari uang, ibu yang mendidik anak di rumah. Pandangan ini merupakan
pandangan yang salah. Tanggung jawab pendidikan anak tetap pada ayah tetapi ibu
sebagai penolong dalam pendidikan anak. Anak laki-laki memerlukan model bagi
kehidupannya, yaitu ayahnya. Anak perempuan memerlukan suatu pola untuk
mengenal dan menilai seorang laki-laki dari ayahnya.
Ada dua hal penting yang seharusnya
dilakukan dalam keluarga agar keluarga tersebut dapat tumbuh secara rohani
menuju kepada kedewasaan penuh, yaitu: kebaktian keluarga dan saat teduh.
Kebaktian keluarga dilaksanakan secara bersama oleh seluruh anggota keluarga
dan seisi rumah. Dalam kebaktian keluarga dilibatkan semua anggota keluarga.
Misalnya, ayah menyampaikan firman Tuhan, ibu memimpin acara, anak-anak sebagai
pemimpin pujian. Kemudian, dilakukan secara bergantian. Kebaktian keluarga
dapat diadakan pada malam hari sehingga semua anggota keluarga dapat
mengikutinya. Bila memungkinkan dapat dilakukan setiap hari atau dua hari
sekali dengan waktu 30 sampai 60 menit. Mendisiplinkan diri mengadakan saat
teduh setiap hari akan membawa pertumbuhan rohani dan perilaku yang semakin
diperbaharui.
D.
Metode-metode
yang digunakan Pengajar
1. Kebergantungan
pengajar pada karya Roh Kudus. Roh kudus adalah pengajar yang sesungguhnya (Yoh
14:26), Roh Kudus bukan hanya membimbing untuk memahami kebenaran (Yoh 16:13)
tetapi Ia juga disebut sebagai Roh Kebenaran (Yoh 16:13). Seorang pengajar
dikatakan efektif dalam pengajarannya jika ia memiliki kebergantungan pada
kuasa Roh Kudus dan kesucian hidup yang menjadi keteladanan dalam perbuatan.
2. Mengetahui
Kebenaran. Kalau seorang ingin mengetahui kebenaran, Ia harus mencarinya dalam
Tuhan Yesus Kristus. Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan
pengetahuan (Kol 2:3). Dan Tuhan Yesus berkata “Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup” (Yoh 14:6). Seorang akan dibenarkan Allah kalau ia menerima Tuhan Yesus
Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Orang yang sudah dibenarkan
oleh Allah telah mengalami lahir baru atau menjadi ciptaan baru yang harus
melakukan pekerjaan baik (Ef 2:10). Orang yang sudah lahir baru menjalani
hidupnya dalam terang kebenaran firman Allah (Mzm 119:105)
3. Menerapkan
kebenaran dalam kehidupan. Marion Lawrence mengemukakan bahwa guru sekolah
Minggu yang ideal harusla memenuhi syarat-syarat, yaitu pikirannya dicurahkan
untuk mempersiapkan pengajaran, jiwanya dicurahkan untuk menyajikan pengajaran,
hidupnya harus menjadi teladan. Pengajar harus meneladani Kristus supaya
menjadi teladan bagi muridnya (1 Kor 11:1)
4. Hubungan
dalam Kasih. Kasih adalah salah satu buah Roh sehingga orang percaya harus
bergantung pada Roh Kudus (Gal 5:22). Pengajar yang sudah dipenuhi kasih
Kristus akan dapat mengasihi murid-muridnya supaya mereka juga mengalami
jamahan kasih Kristus seperti yang telah dialaminya.
5. Membangkitkan
perhatian para murid untuk mendengar, melihat, mengatakan dan mengerjakan apa
yang diajarkan.
6. Komunikasi
yang jelas, sederhana, mudah dimengerti dan utamakan untuk memperoleh umpan
balik dari para murid.
7. Pola
peningkatan. Selalu hubungkan gagasan baru dengan gagasan lama atau sebelumnya.
Berikan pelajaran secara bertahap dengan jelas dan dengan penuh kesabaran.
8. Sukacita
menemukan. Seorang pengajar harus mendorong muridnya untuk menemukan sendiri,
jangan hanya sekedar mendengar. Disebut “sukacita menemukan” karena ada
sukacita khusus saat menemukan jawaban yang memuaskan.
9. Respons
kemauan. Seorang guru harus memberikan kesempatan yang luas untuk merespons
kemauan. Kebenaran harus menghasilkan suatu pelajaran yang patut
dipertimbangkan. Semakin lengkap tanggapan semakin efektif pembelajaran. “Jadi
jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya,
ia berdosa” (Yak 4:17)
10. Hidup
sebagai pelaku Firman. Guru harus menolong para murid mengejawantahkan
pelajaran dalam kehidupan sehari-hari (Yak 1:22)
E.
Garis
besar penggunaan Metode
1. Guru
harus menyiapkan bahan pelajaran sebelum menentukan metode mengajar.
2. Guru
akan memilih metode yang sesuai. Factor yang menentukan keputusan seorang guru,
yang juga mempertimbangkan umur murid, adalah isi Alkitab dan waktu yang
digunakan.
3. Guru
harus menggunakan metode yang bervariasi
4. Guru
harus menggunakan metode yang membuka komunikasi.
5. Guru
harus mengatur tempat sebgai fasilitas yang akan digunakan dalam sebuah metode.
F.
Tipe-tipe
Metode Mengajar
Tipe belajar termasuk metode untuk
membangun pengetahuan, pengertian, keterampilan, sikap, minat, atau nilai-nilai.
Metode pengajaran dapat ditambahkan juga dengan bermain khususnya untuk
mengajar anak-anak kecil (aktivitas di luar kelas).
1. Kelompok
Kerja
Kelas
dibagi dalam kelompok yang terdiri dari, misalnya 3-6 orang atau setidaknya
dibagi seadil dan serata mungkin. Mereka akan berdiskusi dengan topic khusus
dan waktu yang terbatas.
a. Mempersiapkan
topic khusus, yang sama atau berbeda, untuk setiap kelompok
b. Mempersiapkan
kertas kerja dan tempat yang cukup untuk membuat ringkasan
c. Memilih
seorang pemimpin untuk setiap kelompok atau menjelaskan bagaimana suatu
kelompok memilih pemimpin
d. Guru
mengunjungi setiap kelompok untuk mendorong dan membantu; akhirnya
e. Mereka
masuk dalam kelompok besar atau berkumpul kembali.
Secara bersama-sama, setiap kelompok berdiskusi
untuk mencari jalan keluar, sedangkan guru meringkas.
Metode
kelompok mendorong murid untuk berinteraksi dalam kelompok kecil, menuangkan
ide-ide atau pengetahuan baru, menerapkan kebenaran firman Tuhan dan membuat
murid tertarik dan berpartisipasi. Laporan yang telah dibuat setiap kelompok
dapat dipakai untuk masa yang akan datang.
2. Guru-Murid:
Tanya-Jawab
Metode
ini memberi kesempatan murid-guru untuk tanya-jawab. Pertanyaaan membuat
interaksi dalam kelas menjadi hidup. Dalam pertanyaan terdapat berbagai macam
tipe. Pertanyaan yang factual digunakan untuk menginformasikan atau membuka
diskusi.
3. Murid-Guru:
Tulisan Kreatif
Penulisan
kreatif merupakan proyek khusus supaya murid-murid dapat menulis dengan
kata-kata sendiri, baik yang mereka pelajari dalam Alkitab maupun masalah yang
mereka hadapi. Murid-murid akan lebih menguasai, ketika menuangkan gagasan,
keyakinan, perasaan dan ide-ide mereka. Di samping itu penulisan kreatif
membantu murid memahami Alkitab atau sesuatu yang tertulis. Jika murid-murid
ingin menulis artikel, mereka harus menulis secara argumentatif. Jika mereka
hendak menulis untuk diterbitkan, mereka harus mengemukakan pendapat mereka
sendiri. Penulisan kreatif bisa berupa puisi, kata-kata baru untuk suatu himne
yang sudah dikenal, naskah radio, permainan, cerita, brosur, stiker, dan
slogan.
G.
Pelayanan
PAK Anak dalam Sekolah Minggu
Hari Minggu adalah hari untuk berdoa kepada Tuhan
dan mendengarkan firmanNya. Sekolah Minggu berfungsi sebagai kegiatan dalam
gereja untuk melatih, memahami, dan mempelajari firman Allah secara
bersama-sama. Sekolah Minggu anak-anak memberi kesempatan kepada mereka untuk
berdoa sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan mereka. Waktu yang
digunakan dimaksudkan sebagai waktu tambahan PAK. Sekolah ini berfungsi untuk
melatih dalam berdoa, kepemimpinan dan pelayanan. Kurikulum disesuaikan dengan
tingkat usia dan partisipasi anak. Untuk hasil terbaik, gurunya harus dipilih
demi kepentingan, pertumbuhan pemahaman Alkitabiah dan segi rohani mereka.
Metode pengajaran Tuhan Yesus
kepada Murid-muridNYA
1. Memenangkan
perhatian
a. Menggunakan
Mata (bd. Mat 4:18 dan Yoh 1:38)
b. Mengundang
pembicaraan (Yoh 4:7-10)
c. Menanyakan
pertanyaan (Mat 16:13)
Sebagai simulasi perhatian (Mat 16:13), menjernihkan
pikiran (Mrk 10:3), mengungkapkan emosi (Mat 12:34), menekankan kebenaran (Mat
16:26), menegur (Mat 21:25-27), meyakinkan (Mrk 2:25), menguji (Yoh 21:15-17)
d. Mengundang
persahabatan (Mrk 1:17)
e. Memanggil
namanya (Yoh 1:42)
f. Menggunakan
kata-kata untuk menarik perhatian (Mrk 4:3, Luk 18:17, 31; 22:10)
2. Menggunakan
ilustrasi dan cerita
Memunculkan perhatian (luk 8:4-9), menjelaskan suatu
prinsip/ajaran (luk 10:30-35), masuk ke dalam pengajaran (luk 15), menerapkan
kebenaran (luk 6:47-49).
3. Menggunakan
Ceramah atau Khotbah
4. Menggunakan
Benda atau objek. Misalnya burung, bunga, rumput (Mat 6:25-31)
5. Menggunakan
Model. Misalnya pada kasus Nikodemus (Yoh 3), untuk murid-muridNYA cara berdoa
(luk 9:18, 28; 11:1)
BAB
III
PENUTUP
Menurut saya metode pengajaran PAK
Anak dalam Sekolah Minggu yang efektif dan berhasil adalah sama dengan metode
pengajar yang telah dijelaskan di atas sebelumnya, baik mengajar PAK Anak di
sekolah sekuler maupun di dalam Sekolah Minggu adalah sama. Karena baik di
sekolah sekuler maupun di sekolah Minggu, buku atau materi pembelajaran telah
ditentukan/diberikan. Seperti di Gereja saya, buku dan materi pengajaran telah
ditentukan dan diberikan dari pusat beserta aktivitas-aktivitasnya. Dan kami
tinggal mempelajari metode-metode dalam pengajaran agar mereka ingin terus
belajar dan tidak merasa bosan. Dengan pertemuan sekali seminggu kami
mengadakan sermon untuk Guru Sekolah Minggu.
Pelayanan Sekolah Minggu juga
dilakukan pada perayaan-perayaan khusus seperti, merayakan Paskah, Hari Natal,
Parheheon Sekolah Minggu, Lomba CTA, Mewarnai, Koor antar Resort. Kami juga
mengadakan retreat dalam ibadah padang 1 kali setahun atau 1 kali dalam 2
tahun, agar membuat mereka mengerti bahwa ciptaan Tuhan yang sungguh indah yang
dapat kita rasakan dan harus kita lestarikan untuk anak cucu kita.
KESIMPULAN
Metode PAK Anak
akan Efektif dan berhasil jika dipengaruhi pengajaran yang baik dari dalam
Keluarga terlebih dahulu yang telah ditanamkan oleh Ayah dan Ibu. Dengan
bantuan Roh Kudus dan berlandaskan Firman Tuhan (Alkitab) semua metode akan
berhasil. Dan itu juga dipengaruhi oleh pengajarnya sendiri. Baik dalam pendidikan
PAK Anak sekuler di sekolah maupun Guru Sekolah Minggunya.
Jadi
dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang akan dibenarkan Allah kalau ia menerima
Tuhan Yesus Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Orang yang sudah
dibenarkan oleh Allah telah mengalami lahir baru atau menjadi ciptaan baru yang
harus melakukan pekerjaan baik (Ef 2:10). Orang yang sudah lahir baru menjalani
hidupnya dalam terang kebenaran firman Allah (Mzm 119:105). Jadi orang yang
sudah lahir baru, pasti dapat menerapkan Metode PAK Anak yang Efektif dan
Berhasil.
DAFTAR
PUSTAKA
Kristianto,
Paulus Lilik. Prinsip & Praktik
Pendidikan Agama Kristen. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2008
[1]
Kristianto, Paulus Lilik. Prinsip &
Praktik Pendidikan Agama Kristen. Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar